Published On: Sat, Jun 2nd, 2018

Ramadhan, Ponpes An-Nur Tidak Libur

IMEDIACYBER | Berlokasi di Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi, Pondok Pesantren An-Nur telah berdiri sejak 2004. Alhamdulillah, Pondok pesantren yang dipimpin Ustadz Marwazi itu kini telah meluluskan sekitar 1.000 santri. Saat ini, ponpes memiliki santri 500-an orang.

Bulan suci Ramadan tahun ini bertepatan dengan pelaksanaan ujian sekolah. Menurut Ustadz Marwazi, pelaksanaan ibadah-ibadah di dalam bulan suci Ramadhan tetap dijalankan.

“Rutinitas santri seperti biasa, melaksanakan shalat wajib berjamaah, shalat tarawih, witir dan tadarusan,” ungkapnya.

Namun, sambung Ustadz Marwazi, memang saat waktu ashar menjelang maghrib, para santri berkumpul di masjid untuk melakukan pengkajian kitab Subul As-Salam.

Diungkapkannya, Pondok Pesantren An-Nur mulai dari awal berdiri pondok hingga saat ini, ketika bulan suci Ramadan, tidak meliburkan santri-santrinya. Hal tersebut dilakukan agar para santri lebih fokus dalam menjalankan ibadah-ibadah saat puasa.

“Memang sudah kesepakatan dari awal berdiri hingga saat ini, mulai dari awal puasa hingga 20 hari puasa para santri tinggal di asrama. Ini juga mendapat dukungan dari orang tua santri,” tuturnya.

Hal ini dilakukan agar para santri terpola dan terkontrol dalam melakukan ibadah puasa serta memanfaatkan bulan baik ini sebaik mungkin. Selain itu juga agar para santri terpola dan terkontrol dalam melakukan ibadah puasa serta memanfaatkan bulan baik ini sebaik mungkin.

Para santri di Pondok Pesantren An-Nur wajib menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab dalam berkomunikasi sehari-hari. Itu merupakan komitmen agar nanti para santri yang telah lulus memiliki basic dua bahasa tersebut.

Salah seorang pengasuh ponpes, Ustadzah Sunarti, mengatakan memang untuk santri baru akan terasa sulit, namun lama kelamaan akan terbiasa.

“Kita setiap habis salat subuh diberikan hafalan kosakata, itu sekitar dua kosakata. Jadi santri di suruh menghafal, sebelum tidur itu habis isya mereka setor hafalan,” katanya.

Selama tiga bulan, santri masih diizinkan untuk menggunakan bahasa Indonesia. Namun, memang tidak di perbolehkan untuk menggunakan bahasa daerah.

“Untuk bahasa daerah memang tidak di gunakan, Bahasa Indonesia pun kalo kepepet. Jika lebih dari tiga bulan masih gunakan Bahasa Indonesia, terlebih bahasa daerah, maka akan ada kosekuensinya. Yaitu tambah hafalan kosakata,” ujarnya.

About the Author

-

Indonesia Media Cyber | Menginformasikan Indonesia Secara Online