Published On: Sat, Aug 18th, 2018

LBH Antara 56 Desak Polisi Segera Tuntaskan Kasus Pencopotan Bendera di Apartemen Kalibata

Share This
Tags

IMEDIACYBER | Baru-baru ini beredar video di social media yang berisi seorang ibu-ibu yang marah-marah sambil membawa bendera merah putih. Video ini rupanya dibagikan oleh akun bernama Kabar Kalcit dengan judul “Pencopotan Paksa Bendera Merah Putih Oleh Pihak Pengelola”.

Didalam video yang berdurasi sepanjang 2 menit 47 detik itu, terlihat wanita yang memegang bendera tersebut tengah marah-marah pada seorang laki-laki. Bersama wanita itu terlihat seorang laki-laki berkaus hitam yang juga turut mempertanyakan alasan pencopotan bendera dari unit mereka.

Berdasarkan video tersebut, rupanya pihak pengelola apartemen mengetuk pintu unit wanita dalam video kemudian mencopot paksa bendera yang dipasang di balkon unit tersebut.

“Unit saya diterobos masuk sama pengelola untuk dicopot benderanya”.

“Enggak bener ini”.

“Orang saya pasang bendera merah-putih kok” ujarnya dengan menunjuk-nunjuk.

Wanita dalam video tersebut berkali-kali mengatakan bahwa dirinya tidak melakukan pencopotan sendiri.

“Bukan saya lho,” ucapnya berulang-ulang.

Namun pria yang diduga pihak pengelola itu pun hanya mengatakan bahwa dirinya hanya menjalankan perintah saja.

Hingga tanggal 17 Agustus 2018, video tersebut telah memiliki sebanyak 4,6K view.

Tidak terima dengan tindakan pengelola, para penghuni apartemen Kalibata City yang tergabung dalam Komunitas Warga Kalibata City (KWKC) melaporkan insiden dugaan pencopotan bendera Merah Putih dari balkon salah satu penghuni Apartemen Kalibata City ke Polda Metro Jaya.

Ketua KWKC sekaligus pihak yang melaporkan kejadian itu, Sandi Edison menilai alasan petugas pengelola apartemen dengan mencopot bendera milik penghuni bernama Nyimas yang tinggal di tower Damar lantai 12/CF, pada Kamis (16/8/18) tak masuk akal dan tak jelas.

“Jadi tidak jelas apa alasan mereka, mereka bilang itu merusak nilai estetika,” jelas Sandi saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (17/8/18).

Sandi menilai perbuatan petugas pengelola apartemen itu memiliki tiga aspek dugaan pelanggaran hukum.
Dugaan pelanggaran pertama adalah pengelola melakukan intimidasi karena menerobos masuk ke unit apartemen milik Nyimas, dan mencopot bendera yang telah terpasang di balkon tanpa izin dan secara memaksa.

“Pengelola melakukan pencopotan bendera tanpa izin dan tak menunggu dulu pemilik bendera itu untuk dicopot secara sukarela demi menghormati simbol negara,” kata Sandi.

Dugaan pelanggaran kedua, kata Sandi, pengelola melakukan tindakan tanpa dibekali surat izin resmi dan melakukan koordinasi terlebih dulu dari pihak yang berwenang.

Dia menilai petugas yang memasuki unit apartemen milik Nyimas tak dapat menunjukkan surat tugas atau surat perintah minimal dari RT setempat.

“Mereka tak menjelaskan dengan jelas meminta pencopotan bendera tanpa ada surat pemberitahuan atau surat imbauan terlebih dulu,” kata Sandi.

Lalu indikasi pelanggaran ketiga adalah soal pelecehan yang dilakukan petugas apartemen terhadap simbol negara Indonesia yakni bendera merah putih.

Melansir dari kompas.com dalam artikel yang diunggah tanggal 17 Agustus 2018, pihak General Manager Ishak Lopung justru membantah pihaknya melakukan penerobosan pada salah satu unit. Menurut Ishak Lopung, bendera tersebut dipasang pada bracket AC sehingga tak indah dipandang.

Terkait adanya peristiwa pencopotan bendera tersebut, Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 Sunarya mendesak pihak kepolisin untuk segera menyelesaikan kasus tersebut.

“Jika pengelola memang terbukti bersalah seperti yang dituduhkan, pengelola harus segera diseret ke meja hijau,” tutur Sunarya.

Seperti diketahui, sambung Sunarya, video pencopotan bendera di apartemen Kalibata juga sempat viral di grup WhatsApp dengan kebanyakan komentar menghujat tindakan pengelola. Karena netizen menilai tindakan tersebut melukai seluruh rakyat Indonesia yang sedang bersuka cita merayakan hari kemerdekaan.

“Bukan hanya diseret ke meja hijau karena telah melecehkan simbol negara, pengelola tersebut harus meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Karena tindakannya telah melukai hati rakyat Indonesia,” terang Sunarya.

Menurut Sunarya, jika pengelola atau atasan pengelola tidak suka melihat bendera merah-putih yang merupakan simbol negara Indonesia yang sangat dicintai rakyat Indonesia, berkibar di atas tanah Indonesia, dirinya mempersilakan orang tersebut untuk angkat kaki dari tanah air Indonesia.

“Jangan Anda cari makan dan cari kekayaan disini tapi menolak melihat bendera merah-putih berkibar disini. Jadi pinta saya, kalau Anda tak suka dengan bendera merah-putih, silakan keluar dari Indonesia,” tegas Sunarya.

About the Author

-

Indonesia Media Cyber | Menginformasikan Indonesia Secara Online