Published On: Mon, Sep 24th, 2018

BPJS Defisit, LBH Antara 56 Harap Capres Adu Konsep Soal BPJS

Rosidi Roslan

IMEDIACYBER | Sejak diterapkan pada 2014 hingga saat ini, kabarnya BPJS Kesehatan terus mengalami defisit. Jika pada 2017 lalu mengalami defisit sebesar Rp9,75 triliun, menjelang akhir 2018 ini berdasarkan audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), defisit BPJS Kesehatan diperkirakan membengkak menjadi Rp11,2 triliun.

“Terkait hal ini, tentunya harus ada formulasi dan solusi untuk mengurai kondisi ini agar pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan masyarakat yang sedang sakit dan merupakan hak asasi serta hak dasar warga negara yang dijamin konstitusi tidak terganggu. Untuk itu, para Bakal Calon Presiden/Wakil Presiden diharapkan ‘adu’ konsep, gagasan, dan solusi agar BPJS Kesehatan tidak terus defisit,” tutur Ketua Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 (LBH Antara 56) Rosidi Roslan ditemui di kawasan Depok, Jawa Barat (23/9/18).

Rosidi khawatir, selama kampanye Pilpres 2019 nanti, publik tidak disuguhkan perdebatan yang substantif dan mendasar terkait berbagai isu yang mendera rakyat. Ini karena, jika melihat gelagat yang terjadi saat ini di mana perdebatan masih seputar hal-hal yang tidak substantif dan tidak penting.

“Tentunya kita miris melihat di banyak rumah sakit di berbagai daerah sampai harus memasang spanduk pengumuman bahwa BPJS Kesehatan menunggak klaim rumah sakit. Ini persoalan serius. Harusnya kondisi-kondisi aktual seperti ini jadi tema perdebatan saat ini. Namun, yang jadi ajang perdebatan malah penyebutan istilah ‘emak-emak’ dan klaim merasa kelompoknya paling pancasialis yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan di masyarakat,” terang Rosidi.

Salah satu sebab BPJS Kesehatan terus defisit, tambah Rosidi, adalah karena iuran saat ini belum sesuai dengan perhitungan aktuaria Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), namun apabila iuran harus naik lebih besar dikhawatirkan akan memberatkan masyarakat.

“Untuk itu pembangunan kesehatan nasional harus lebih maksimal dan optimal agar defisit BPJS Kesehatan tidak semakin membengkak dari tahun ke tahun,” jelas Rosidi.

Ancaman kita saat ini, kata Rosidi yang juga alumnus fakultas kesehatan masyarakat Universitas Indonesia, yang juga menyedot banyak anggaran adalah penyakit tidak menular yang sebenarnya bisa dicegah mulai dari jantung, ginjal, diabetes dan lainnya.

“Namun selama empat tahun ini upaya promotif dan preventif sangat tidak maksimal. Ada program namanya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang sangat bagus, tetapi banyak masyarakat yang tidak terinformasikan apalagi mengimplementasikannya. Padahal jika konsisten, program promotif dan preventif adalah solusi agar anggaran kesehatan tidak membengkak,” imbuh Rosidi.

About the Author

-

Indonesia Media Cyber | Menginformasikan Indonesia Secara Online