by

Jangan Mencari Popularitas

-Ragam-322 views

IMEDIACYBER | Alloh SWT menakdirkan sebagian orang di antara manusia sebagai orang-orang yang populer atau dikenal oleh banyak orang. Kalau orang-orang berjumpa dengannya, maka mereka menjadi antusias untuk bersalaman atau berfoto. Bahkan, sebagian ada yang mengidolakannya.

Menjadi populer adalah sebuah kenikmatan pada pandangan manusia. Banyak orang yang ingin menjadi populer, sehingga tidak heran kalau saat ini begitu banyak orang yang ingin menjadi artis, ikut ajang ini itu, yang salah satu tujuannya adalah popularitas.

Apakah menjadi populer salah? Tentu saja tidak. Nabi Muhammad saw adalah manusia yang paling populer di dunia ini. Sampai-sampai seorang penulis barat, Michael H. Hart menulis sebuah buku berdasarkan penelitiannya mengenai orang-orang yang paling berpengaruh di dunia, dan menempatkan nama Nabi Muhammad saw sebagai orang nomor satu. Masya Allah!

Tetapi, Nabi Muhammad saw bukanlah sosok yang mencari popularitas. Beliau menjadi populer sejak masa mudanya di tengah-tengah masyarakat kafir Quraisy dahulu, karena kemuliaan akhlaknya. Beliau dengan sendirinya dikenal oleh orang-orang Quraisy sebagai seorang anak muda yang berbudi baik, sopan, jujur, amanah, dan berbagai kebaikan lainnya.

Maka dari itu saudaraku, menjadi populer tidaklah salah. Yang salah adalah kalau salah niatnya. Ada orang yang ingin populer, kemudian menghalalkan berbagai macam cara meski hal-hal yang dilarang oleh Allah sekali pun. Ia lakukan berbagai cara, ia turuti permintaan orang yang bisa mengangkat namanya, tanpa peduli apakah itu halal ataukah haram.

Inilah yang berbahaya. Dan akan lebih berbahaya lagi manakala setelah ia populer, ia menjadi contoh buruk bagi orang lain, karena dengan begitu keburukan akan semakin menyebar. Karena biasanya orang yang populer cenderung akan diikuti oleh orang lain.

Popularitas adalah ujian. Orang yang semakin populer tapi semakin mabuk dengan pujian dan histeria orang terhadap dirinya, maka semakin berat baginya untuk lulus dari ujian ini. Sedangkan orang yang akan selamat dari ujian ini adalah orang yang senantiasa menyadari bahwa ada tanggung jawab besar di balik popularitasnya, sehingga ia semakin mendekat kepada Allah, memohon perlindungan-Nya dan menjadikan popularitasnya sebagai kendaraan untuk mengajak orang-orang semakin dekat kepada Alloh.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa dapat memberikan suri teladan yg baik dalam Islam, lalu suri teladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yg diperoleh orang-orang yg mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa memberikan suri teladan yg buruk dalam Islam, lalu suri teladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yg diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikit pun.” (HR. Muslim).

Saudaraku, menjadi populer itu tidaklah ringan. Semakin kita populer, semakin perilaku kita harus senantiasa terjaga. Bukan untuk jaim (jaga imej), tapi semata-mata agar keburukan kita tidak menjadi contoh bagi orang lain. Imam Al Ghazali pernah mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun, jika ia tenar karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela.”

Tidak perlu kita mencari-cari ketenaran. Namun, jika Allah takdirkan nama kita terkenal, pergunakanlah itu sebagai sarana untuk berdakwah. Tidak usah kita ingin tenar di tengah penghuni bumi, inginkanlah ketenaran di antara penghuni langit.

Kita tentu ingat kisah Uwais al-Qarni, seorang pemuda dari Yaman yang faqir dan yatim. Tidak banyak orang yang mengenalnya. Tapi, Rasulullah pernah mengatakan kepada Siti Aisyah, dan juga kepada para sahabat bahwa pemuda ini tidak dikenal penghuni bumi, tapi sangat dikenal oleh penduduk langit.

Mengapa Rasulullah mengatakan hal demikian. Ternyata karena Uwais al-Qarni adalah anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Masya Allah! Saudaraku, jika Allah mengaruniakan popularitas kepada kita, mari gunakanlah untuk mengajak orang semakin dekat dengan Alloh. Namun, jika kita bukanlah orang yang populer di tengah manusia, maka bersyukurlah dan jadilah orang yang namanya populer di langit sebagaimana Uwais al-Qarni.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed