by

HNW Ajak Mahasiswa Belajar Sejarah, dan Tidak Lupakan Pahlawan Kemerdekaan

-Nasional-131 views

IMEDIACYBER | Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) Indonesia mengadakan Dialog Kebangsaan sekaligus Sosialisasi 4 (empat) Pilar MPR RI (22/11/2019). Acara yang diselenggarakan di Hotel Omni Pekan Baru itu dihadiri Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan Anggota DPD RI asal Riau, Muhammad Gazali sebagai narasumber.

Hidayat dalam paparannya menjelaskan tentang peran mahasiswa ke depan dalam membangun bangsa. Ia meminta mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan melalui pendidikan dan pelatihan sehingga tujuan pendidikan tercapai.

Sebagaimana termaktub dalam UUD 1945, pasal 31 ayat 3, dan Undang-Undang Pendidikan Nasional Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan juga menteladani para Pahlawan Bangsa, baik yang berlatar Islam maupun Kebangsaan. Karena para Pahlawan itu adalah orang-orang yang sangat terdidik, baik formal, maupun non formal, baik dari Perguruan Tinggi di dalam Negeri maupun di Luar Negeri.

Dengan demikian mereka belajar tentang praktek intelektualisme dan aktivisme dlm bingkai keIslaman dan kebangsaan sekaligus. Sebagaimana dicontohkan oleh Pahlawan Nasional dari Riau, yaitu Sultan Syarif Kasim II.

Di hadapan 400 mahasiswa yang hadir dari berbagai kampus, Hidayat memberi contoh pengorbanan dan sikap kebijaksanaan yang dilakukan oleh Sultan Syarif Kasim II. Tanggal 28 November 1945, Sultan Syarif Kasim II yang ketika itu memimpin kesultanan Islam Siak Seri Indrapura mengirim surat “kawat” kepada Presiden Soekarno menyatakan mendukung kemerdekaan RI dan menyerahkan kekayaan.

“Kesultanan Siak waktu itu menggabungkan diri sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik (setara € 69 juta Euro) atau setara 1 Triltun Rupiah lebih,” ujar Hidayat.

Hidayat mendorong pengkaderan mahasiswa di Riau juga memasukan muatan-muatan lokal tentang sejarah perjuangan para tokoh-tokoh lokal, seperti tentang Perjuangan Sultan Syarif Kasim II, Sultan Kerajaan Siak Indrapura, dalam mendukung kemerdekaan Republik Indonesia dan bergabung dengan NKRI.

Menurut Hidayat, menyedihkan jika para tokoh-tokoh perjuangan tersebut dilupakan umat Islam dan kaum muda terpelajarnya, sehingga merasakan seperti menjadi tamu di Negerinya sendiri.

“Perjuangan para Ulama baik yang terhimpun dlm orpol Islam, ormas Islam dan kerajaan-kerajaan Islam seperti; Selamatkan Pancasila, NKRI, ciptakan lambang Burung Garuda Pancasila dan lain-lainl, harus diingat, dimengerti dan dihargai, agar umat tak jadi korban Islamophobia; Anti terhadap Islam dan umat Islam karena disangka mereka tak punya jasa bagi Indonesia, dan agar tak terjadi Indonesiaphobia; Umat anti kepada negerinya sendiri yaitu Indonesia, padahal Indonesia adalah warisan perjuangan dan pengorbanan para Ulama baik yang terhimpun dalam Ormas Islam, Orpol Islam, maupun Sultan-sultan seperti Sultan Syarif Kasim II. Karenanya selain Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), juga penting Jas Hijau (Jangan Sekali kali Hilangkan Jasa Ulama & Umat). Agar Indonesia bisa selalu harmoni, dan tak mudah dipecah belah,” pungkas Hidayat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed