by

Waspadalah! Ciuman ‘Panas’ Menyebabkan HIV/AIDS

-Berita-216 views

IMEDIACYBER | Ciuman ‘panas’ yang populer dengan istilah French kiss rupanya bisa menjadi media penularan virus HIV/AIDS. Hal ini disebutkan oleh dokter spesialis kulit dan kelamin Hanny Nilasari.

Mengapa French kiss berisiko jadi media penularan HIV/AIDS? Karena french kiss tak seperti ciuman biasa yang hanya mempertemukan bibir dengan bibir, French kiss merupakan ciuman yang dapat melibatkan antar mukosa atau lapisan kulit bagian dalam mulut.

“Ciuman yang hanya pertemuan bibir, daya tular ada nol koma nol nol sekian persen. French kiss, mukosa bertemu mukosa, penularan lebih tinggi jadi nol koma sekian,” ungkap Hanny saat temu media bersama Durex di Soehanna Hall, Energy Building, kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (19/11/2019).

Seperti diketahui, HIV/AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penularan tidak melalui udara atau kontak fisik biasa, melainkan melalui hubungan seksual, kontak membran mukosa, transfusi darah, kehamilan (dari ibu dengan HIV/AIDS ke bayi), serta jarum suntik.

Sayangnya hingga kini HIV/AIDS masih jadi penyakit yang sarat akan stigma. Mitos yang keliru kerap berujung pada rasa enggan untuk berinteraksi dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) karena takut tertular.

Sebuah riset terbaru yang dilakukan Reckitt Beckinser melalui Durex menemukan bahwa 3 dari 10 remaja masih berpikir bahwa melakukan aktivitas sehari-hari bersama ODHA bisa tertular HIV/AIDS. Padahal, interaksi biasa, seperti ‘ngobrol’ atau salaman tak akan menularkan virus.

Selain itu, 55 persen remaja juga berpikir kalau HIV bisa ditularkan melalui ciuman. Padahal, dikatakan Hanny, bahwa ciuman yang hanya mempertemukan bibir dengan bibir atau sentuhan kulit luar tak akan menularkan HIV/AIDS, Kecuali jenis ciuman French kiss.

Sementara itu, riset online melalui Jakpat yang melibatkan 1.500 responden dari Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan Yogyakarta menyatakan semua kategori responden pernah mendengar tentang penyakit menular seksual (PMS). Namun, pengetahuan dan pemahaman tentang PMS baru sebatas HIV/AIDS. Padahal ada deret PMS lain yang tak kalah mengkhawatirkan antara lain, gonore, sipilis, juga herpes.

Sehingga Hanny berharap edukasi tentang kesehatan reproduksi terus dilakukan. Kini, sambung dia, adalah era prevensi atau pencegahan bukan era pengobatan.

“Dulu pengalaman saya, dokter itu nunggu pasien datang. Sekarang paradigma berubah. Dokter juga turut mengedukasi pasien termasuk melakukan medical check up lengkap juga cek reproduksi,” ungkapnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed