by

Rosidi: Pemadam Kebakaran Itu Hebat, Tugas Mulia

-Nasional-230 views

IMEDIACYBER | Menjadi anggota pemadam kebakaran memang bukan pekerjaan mudah. Bergelut mengendalikan amukan api, ancaman kesehatan dari gas berbahaya yang ditimbulkan kebakaran, belum lagi menghadapi korban yang emosinya tak stabil dan berbagai risiko lainnya yang bisa menimpa setiap waktu.

Terlebih, kebakaran hutan dan lahan tengah menjadi ‘trend’ belakangan. Oleh sebab itu, pekerjaan yang satu ini bukan dianggap sebagai sekadar profesi oleh pelakunya, melainkan sebuah jalan hidup.

Saat bertugas, berbagai kasus kebakaran harus siap ditangani oleh anggota pemadam kebakaran. Sebagai informasi, setiap amukan api pun memiliki bahaya tersendiri.

“Saya sangat salut dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para anggota pemadam kebakaran yang dengan susah payah dan bahkan tanpa rasa takut nyawanya terancam demi menyelamatkan harta benda dan nyawa orang lain,” tutur Rosidi Roslan, Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Bung Karno (IKA UBK).

Mereka yang memilih hidup, sambung Rosidi, sebagai petugas pemadam kebakaran merupakan orang yang mempunyai jiwa patriotisme. Terlebih, loyalitas mereka dalam pekerjaan yakni ‘Pantang Pulang Sebelum Padam’.

Menurut Rosidi, meski pemadam kebakaran tugasnya selalu menyerempet nyawa, tetapi yang mereka lakukan adalah sebuah tugas mulia. Bisa dibayangkan, tambah Rosidi, bila tidak ada pemadam kebakaran maka kebakaran yang terjadi akan semakin besar dan meluas.

“Yang penting kan kami pakai peralatan lengkap. Memang waktu pertama-tama bekerja, rada takut. Tapi ya sudah, masa mau takut terus,” ujarnya.

Pekerjaan Lapangan yang harus Selesai
Di pundak seorang pemadam kebakaran memang memikul tanggung jawab yang berat. Di tangan mereka, bergantung harapan warga yang rumahnya diamuk si jago merah.

Berpacu dengan waktu untuk segera mungkin datang ke lokasi. Bahkan tak jarang, perburuan waktu petugas, kerap mengundang insiden di jalan. Hal itu pun jadi tantangan tersendiri dari tugas pemadam.

“Mungkin kita sering lihat ketika mobil pemadam lewat di jalanan. Dengan klakson dan sirine menyala, lampu nyala, tetap saja ada pengendara lain yang tidak merespon. Padahal mereka kan berpacu dengan waktu,” tukas Rosidi.

Diakui Rosidi, peran petugas pemadam kebakaran dalam memadamkan api, cukup vital. Bayangkan, dengan kondisi permukiman di Jakarta yang berlika-liku dan sempit, mereka harus mengendalikan mobil berukuran besar untuk segera sampai di lokasi kebakaran.

Untuk para petugas pemadam kebakaran bertaruh nyawa di lapangan, menurut dia, profesi pemadam kebakaran belum mendapatkan apresiasi positif di Indonesia, baik oleh pemerintahnya maupun masyarakat. Berbeda di Eropa yang anak-anaknya bangga bukan kepalang jika sang ayah bekerja sebagai pemadam kebakaran.

Di Indonesia, kata Rosidi, tak jarang penghargaan mereka hanya sebatas air minum kemasan yang dibagikan usai berhasil memadamkan api, bahkan kerap tanpa sekadar ucapan terima kasih. Namun, apa lah arti semua itu dibanding pengabdian tulus kepada masyarakat.

“Seorang petugas pemadam kebakaran tidak pernah berprasangka buruk. Dan itu menjadi tantangan sebagai petugas pemadam kebakaran,” tutup Rosidi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed