by

Opini: Pulau Jawa Diprediksi Kekeringan Air pada Tahun 2040

-Ragam-144 views

IMEDIACYBERNET | Pulau Jawa adalah pulau yang mempunyai penduduk separuh dari jumlah penduduk Indonesia. Tanahnya yang subur dan kaya serta geografis yang indah menjadikan banyak orang yang berbondong – bondong berkunjung ke pulau ini. Banyak problem yang terjadi di sini dengan jumlah penduduknya yang cukup padat, salah satunya adanya masalah mengenai air bersih. Pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai defisit air di Pulau Jawa di tengah – tengah berita yang membahas tentang terjadinya banjir karena curah hujan yang tinggi dan kurangnya daerah resapan air khususnya di perkotaan.

Ancaman kekeringan air akan melanda Pulau Jawa, benarkahakan terjadi? Menurut laporan kerja sama Water Environment Partnership in Asia (WEPA) menyebutkan Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber daya air yang menyimpan 6 persen potensi air dunia . berdasarkan data PBB Indonesia bahkan berkontribusi 21 persen penyumbang air bersih di Asia Pasifik. Tetapi Jawa pulau terpadat di Indonesia terancam kehabisan air bila sumber air tidak dikelola dengan berkelanjutan dalam rancagan teknokratik rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2020 sd 2024 yang dikeluarkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

Kelangkaan air di Jawa Bali dan Nusa Tenggara diperkirakan meningkat pada tahun 2030. Proporsi luas wilayah kelangkaan air meningkat dari 6 persen di tahun 2000 menjadi 9,6 persen ditahun 2045 selain itu kualitas air diperkirakan juga menurun signifikan. Merujuk data ketersediaan air yang disusun pusat litbang sumber daya air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (Kemen PUPR), 1 orang di Jawa mendapat 1.169 m3 pertahun atau setara 58 truk tangki berbobot 20.000 liter. Ketersediaan air untuk satu penduduk jawa akan terus menurun hingga 476 m3 pertahun pada tahun 2040 angka ini dikategorikan dalam kelangkaan total.

Temuan ini tercantum dalam kajian lingkungan hidup strategis rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun BAPPENAS 2019. Temuan pusat penelitian geo teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menguatkan penelitian ini. penelitian menyebutkan LIPI meneliti dampak perubahan iklim terhadap neraca air Pulau Jawa pada 2005 hasilnya Jawa defisit air sampai 2070 dengan menggunakan perangkat lunak Magicc dan Scengen peneliti LIPI membuat skenario potensi air di Jawa sampai 2070.

Rentang ini di pilih untuk memperlihatkan perbedaan yang signifikan atas dampak dari perubahan iklim. Magicc membantu peneliti konsentrasi rumah kaca, suhu udara permukaan rata rata global dan permukaan laut. Scengen menyusun serangkaian perubahan iklim yang eksplisit dunia hasil dari Magicc. Penelitian pusat geoteknologi berhasil menemukan bahwa pada tahun 2018 prediksi yang sama terjadi pada penelitian tahun 2005 yaitu peningkatan krisis air di jawa.

Proyeksi representative concentration pathway 4.5 terus meningkat dalam setahun sampai 2070 .Daerah yang defisit air meluas sementara bagian basah dibagian barat dan tengah semakin berkurang tahun 2040. Semua wilayah di Pantura Banten sampai Surabaya akan menjadi wilayah yang mengalami defisit ketersediaan air.

Faktor terbesear menurut LIPI adalah iklim. Ada perubahan siklus air karena peningkatan temperatur akibat perubahan iklim. Ancaman krisis air di Jawa semakan nyata yang dpengaruhi faktor antropogenik pengambilan air secara besar besaran untuk rumah tangga, Industrin dan alih fungsi lahan. Air yang seharusnya disearap masuk dan bertahan lama di dalam tanah dan bertahan di darat menjadi air limpasan yang langsung ke saluran air sungai dan laut karena tanah menjadi lapisan kedap air akibat alih fungsi lahan. Penelitian LIPI menyebut alih fungsi lahan dari area peresapan menjadi pemukiman dan industri, sementaa jawa masih menjadi daerah industri andalan.

Persoalannya di Jawa air selalu dipersepsikan sebagai Sumber Daya terbarukan karena Indonesia mengalami musim hujan tiap tahun. Padahal curah hujan di Jawa tak pernah bertambah bahkan cenderung menurun. kebutuhan air naik tapi ketersedian dan kualitas tercemar. Maka dari itu sangat penting membudayakan penghematan air agar neraca air seimbang. Ada daerah yang kekeringan ada yang kelebihan. Pemerintah mengklaim proses revitaliasi waduk dan proyek bendungan yang terus berjalan dapat mencegah krisis air. Namun akademisi menilai belum cukup membendung bencana yang akan datang. Selain itu untuk mengantisipasi krisis di Jawa perlu menerapka reuse dan recycle. Salah satunya dengan memanfaatkan air payau dengan mengandalkan penyulingan air. Namun teknologi penyulingan masih mahal hingga saat ini Semoga untuk kedepan alat penyulingan air menjadi air yang siap minum semakin berkembang dan dengan harga yang terjangkau.

Oleh: Arif Dwi Mulyanto, Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed