by

LBH Antara 56 Prihatin dengan Kasus Pembunuhan Balita oleh Remaja

-Polhukam-40 views

IMEDIACYBER | Warga Jakarta dibuat kaget mendengar kasus pembunuhan terhadap anak berusia 5 tahun yang dilakukan gadis remaja berusia 15 tahun. Hal tersebut juga menjadi duka mendalam dan keprihatinan semua orang.

Terlebih pelaku diduga membunuh korban karena terinspirasi film yang menampilkan adegan pembunuhan.

Ketua Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anarki Nusantara (Antara) 56 Rosidi Roslan mengatakan, memang sejak dahulu tayangan kekerasan memang sudah menjadi tantangan bahkan ancaman bagi tumbuh kembang anak, terlebih saat ini di mana semua serba terkoneksi.

Lebih lanjut Rosidi menjelaskan, berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa konten kekerasan dapat menyebabkan perilaku agresif pada anak-anak, dan perilaku ini bisa sangat berbahaya jika konten kekerasan tersebut melibatkan senjata atau adegan pembunuhan.

“Kejadian ini tentu menjadi duka mendalam dan keprihatinan bagi kita semua. Memang, sebagai orang tua tantangan kita di dunia yang serba terkoneksi saat ini cukup berat,” tutur Rosidi di Jakarta, Sabtu (14/3/2020).

Kita harus memastikan, lanjut ayah dari empat orang anak ini, anak kita tidak terpapar konten kekerasan baik dari televisi, internet, film atau games. Tayangan kekerasan itu ‘racun’ bagi anak-anak kita. Oleh karena itu tidak boleh ada kompromi, kita harus luangkan waktu mengontrol tontonan anak-anak kita.

Tayangan kekerasan, kata Rosidi, yang membekas pada anak-anak sangat berpotensi menggerus atau menurunkan sensitivitas anak tersebut terhadap kekerasan di kehidupan sehari-hari sehingga anak berpikir bahwa kekerasan itu adalah hal yang biasa. Selain itu, yang sangat berbahaya adalah jika anak-anak kemudian meniru dan mempraktikkan adegan kekerasan yang dilihatnya.

“Potensi ini sangat besar terjadi, karena anak-anak umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat dan tidak tertutup kemungkinan perilaku dan sikap mereka akan meniru kekerasan yang mereka tonton,” pungkas Rosidi.

Untuk itu, sambung Rosidi, perlu ada pembatasan dan pendampingan terhadap anak-anak saat menonton sebuah tayangan,” terang Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Bung Karno ini.

“Sebagai orangtua tidak boleh kompromi, jangan sampai anak-anak kita terpapar sedikitpun dengan konten kekerasan karena dampaknya sangat berbahaya bagi tumbuh kembangnya. Di dunia yang serba terkoneksi saat ini sebagai orang tua sedikitpun kita tidak boleh lalai mengawasi tontonan anak-anak kita,” tutup Rosidi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed