by

BBTKLPP Surabaya Ingatkan Bahaya Leptospirosis dalam Masa Pandemi

-Nasional-59 views

IMEDIACYBER | Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya pada Jumat, 26 Juni 2020 lalu telah menggelar kembali Webinar series dan berhasil. Webinar tersebut untuk menjawab tantangan pelaksanaan program-program surveilans penyakit menular antara lain penyakit zoonosis seperti leptospirosis.

Kepala BBTKLPP Surabaya Rosidi Roslan mengatakan, dalam forum tersebut ingin berbagi pengalaman bersama dinas kesehatan dalam pelaksanaan surveilans leptospirosis di tengah pandemi dan menggali cara baru dalam mengotimalkan sumber daya dalam pelaksanaan surveilans.

“Upaya pengendalian Leptospirosis di Indonesia bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian Leptospirosis, mencegah penularan Leptospirosis ke manusia di daerah endemis dan menjadikan lingkungan sehat dan terbebas dari risiko penularan Leptospirosis,” jelas Rosidi.

Sejak adanya pandemi Covid-19, lanjut Rosidi, segala sumber daya kesehatan, baik SDM, pendanaan dan sarana dikerahkan untuk mencegah dan mengendalikan Covid-19, kejadian penyakit berpotensi KLB lainnya seakan terlupakan.

Padahal angka kejadian penyakit berpotensi KLB lainnya termasuk leptospirosis juga meningkat seiring dengan perubahan kondisi lingkungan, perilaku masyarakat maupun kesiapan fasilitas kesehatan primer dalam memberikan layanan kesehatan.

Untuk itu, BBTKL Surabaya melakukan penguatan surveilans leptospirosis di beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur dengan dukungan pelatihan dan pengujian spesimen. Bersama dengan Direktorat P2PTVZ dan CDC, BBTKLPP Surabaya mengembangkan sistem surveilans sentinel Leptospirosis di Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur sebagai laboratorium penguji spesimen leptospira pada rodent maupun pada manusia.

“Peran ini sangat penting bagi pemetaan kondisi persebaran penyakit leptospira di wilayah Jawa Timur,” tutur Rosidi.

Ke depan, kata Rosidi, diharapkan peran BBTKLPP Surabaya dapat lebih meningkat dengan melakukan penguatan surveilans leptospirosis di wilayah layanan kerja lainnya mengingat hasil Rikhus Vektora tahun 2015–2018 Infeksi patogenik leptospirosis pada tikus ditemukan juga di wilayah Bali, NTB dan NTT.

Berkenaan dengan peran BBTKLPP Surabaya sebagai laboratorium penguji, pada tahun 2019, BBTKLPP Surabaya ditunjuk oleh Direktorat P2PTVZ dan CDC sebagai laboratorium ke-3 setelah RSUP Kariadi Semarang dan BBP2PRV Salatiga sebagai penguji MAT yang menjadi gold standar pengujian leptospirosis.

“Dalam menjalankan tugas ini, kami sangat membutuhkan dukungan semua pihak untuk dapat bersinergi dan saling mengoptimalkan potensi yang ada terutama sekali dari Direktorat P2PTVZ dan Dinas Provinsi serta Dinas kesehatan Kab/kota di wilayah layanan kami,” terang Rosidi. [ary]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed