by

Haedar Tegaskan Muhammadiyah Tidak Akan Jadi Partai Politik

IMEDIACYBER | Haedar Nashir menerangkan bahwa dalam QS Al Hasyr Ayat 18, umat Islam diperintahkan untuk memperhatikan masa depan dengan tanadzar (berpikir mendalam). Misalnya, berpikir tentang lingkungan sekitar, memerhatikan aneka tumbuhan dan binatang-binatangnya, memandang misteri langit, dan bertafakkur pada gerak alam semesta.

“Semangat untuk tafakur, semangat menjadi ulul al-bab, ini semua menggambarkan Islam sebagai din al-hadlarah, agama yang membawa kemajuan. Tradisi iqra harus melekat dengan pemahaman keislaman kita. Karena ajaran pertama dari Islam adalah iqra,” tutur Haedar pada Selasa (29/06/2021).

Karenanya, Al Islam yang dipahami dan diyakini oleh Muhammadiyah menurut Haedar adalah Al Islam yang multiaspek, mendalam, luas, melintas batas, membawa peradaban, memakmurkan dunia dan membawa keselamatan di akhirat. Karenanya para dosen sekalipun harus memahami Islam atau Al Islam dalam pandangan yang mendalam, luas, dan komprehensif.

Selain itu, Haedar juga berharap seluruh civitas akademik yang berhimpun di pergurutan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki wawasan kemuhammadiyahan. Mulai dari memahami Muhammadiyah dari aspek sejarah, sampai mempelajari ideologi yang diyakini Muhammadiyah itu sendiri.

“Kita juga semua baik dosen, pelajar atau pimpinan harus belajar tentang kepribadian Muhammadiyah baik isi penjelasannya maupun 10 poin utama sifat Muhammadiyah untuk menjadi acuan kita dan pemahaman kita,” kata Haedar.

Menurut Haedar, 10 Sifat Kepribadian Muhammadiyah lahir dari Keputusan Muktamar ke-35 tahun 1962. Isinya mulai dari berjuang untuk perdamaian, ukhuwah Islamiyah, bekerjasama dengan golongan Islam manapun, hingga bersifat adil. Setelah 10 sifat kepribadian Muhammadiyah, lahir matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah. Kemudian disempurnakan dengan Khittah Perjuangan Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dan Khittah dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Dari beragam ketetapan tersebut, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah akan terus konsisten menjadi gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tidak akan bertransformasi menjadi partai politik. Meski demikian, Muhammadiyah memberikan kebebasan kepada setiap anggota Persyarikatan untuk menggunakan hak pilihnya dalam kehidupan politik sesuai hati nurani masing-masing.

“Tetapi kader Muhammadiyah yang menjadi aktivis politik kita dorong di partai politik dan perjuangan politik, sehingga menjadi anak panah Muhammadiyah dalam peran yang berbeda, tetapi menjadi peran Muhammadiyah melalui tokoh-tokoh dan para aktivisnya,” tutur Haedar.

“Seluruh pemikiran Muhammadiyah itu merupakan prinsip atau dasar ideologi dari gerakan Muhammadiyah yang perlu dipahami, dihayati, dan dipraktekkan oleh seluruh jajaran perguruan tinggi Muhammadiyah, termasuk di dalamnya oleh para dosen, mahasiswa dan tenaga karyawan lainnya,” imbuh Haedar.

[muhammadiyah.or.id/ary]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed