by

UHF Sampaikan Opini Terkait Pernyataan 2 Pejabat Negara

IMEDIACYBER | Izinkan saya memberikan opini tentang pernyataan 2 pejabat negara. Hal tersebut disampaikan ulama Indonesia terkenal, Ustadz Hilmi Firdausi (UHF) melalui akun media sosial Instagram pribadinya, Selasa (14/8/2021).

“Yang pertama statement Pangkostrad yang menurut saya kurang lengkap,” ujar UHF.

Kata UHF, fanatik berlebihan terhadap agama itu seperti apa? Justru, sambung dia, seorang pemeluk agama harus fanatik terhadap agamanya.

Menurut UHF, dia harus menganggap agamanya yang paling benar dalam hidupnya, namun tetap dengan menghormati agama lain dan pemeluknya. Kalau aksi terorisme lalu perusakan rumah ibadah, kata dia, itu jelas diharamkan dalam Islam, itu bukanlah sifat fanatik tapi kebablasan.

“Jika seperti ini yang anda maksudkan, kami sependapat,” tutur UHF.

Tapi kalau orang menjalankan syariah Islam dengan kaffah disebut fanatik, imbuh UHF, kami jelas menolaknya.

“Apalagi pernyataan anda tentang semua agama itu baik di mata Tuhan, itu jelas ga benar. Harusnya ditambahkan sesuai ajaran agamanya masing-masing,” tegas UHF.

Disebutkan UHF, tugas kita adalah saling menghormati dan tidak mencampuri urusan agama orang lain, lakum diinukum waliyadin.

Yang kedua, kata UHF, komentar saya tentang narasi yang dibangun Tenaga Ahli Utama KSP yang masih suka bilang Kadrun, Kadrun…duh, anda kan digaji pakai uang rakyat, kata UHF, kenapa narasinya seperti itu?

“Ayolah…bangsa ini sudah cukup dipecah belah, dikotak-kotak, saatnya kita bersatu dan saling respect…apalagi ucapan yang keluar dari pejabat negara itu harusnya menyatukan dan mendamaikan,” jelas UHF.

Sebenarnya, tutur UHF, pingin ngasih opini lagi buat postingan seseorang yang julid ketika ada santri menutup telinga karena mendengar musik…tapi sudahlah, kita jadi tau orang-orang yang berteriak toleransi ternyata tidak bisa menghargai perbedaan.

“Saya kadang masih mendengar musik (terutama yang Islami), saya tetap menghafal Qur’an dan hadits, tapi saya ga nyinyir kepada orang yang mengharamkan musik…ranah ikhtilaf bukan untuk dijadikan alasan untuk berpecah belah, harusnya itu dijadikan ladang amal bertoleransi terhadap perbedaan. Indah bukan?,” demikian tutup UHF.

[ary]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed