by

Ustadz Abdul Somad Sebut Otoritas Mufti dan MUI Tidak Beda

-Kajian-7 views

IMEDIACYBER | Salah satu kelebihan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menguasai urusan dunia dan akhirat. Beliau pemimpin dunia, beliau juga pemimpin urusan agama.

Hal tersebut disampaikan ulama Indonesia terkenal, Ustadz Abdul Somad (UAS) melalui akun media sosial Instagram pribadinya, Jumat (19/11/2021).

Setelah Rasulullah wafat, kata UAS, urusan dunia dan agama itu dilanjutkan para Khulafa’ Rasyidun: Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Sampai akhirnya kesultanan dipimpin oleh orang yang ahli mengurus urusan pemerintahan.

Tapi merasa tidak ahli agama, lanjut UAS, maka diangkatlah Mufti yang secara bahasa berarti ahli fatwa. UAS menyebut mufti memiliki otoritas dalam mengeluarkan pendapat atau fatwa dalam masalah agama Islam.

“Tradisi itu sampai ke Nusantara,” ujar UAS.

Menurut UAS, Kerajaan Aceh memiliki seorang mufti yang masyhur bernama Syaikh Nuruddin ar-Raniri (wafat 1658). Beliau menulis kitab as-Shirath al-Mustaqim.

Kitab tersebut disyarah (penjelasan) oleh mufti Kesultanan Banjar Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (wafat 1812) dalam kitab berjudul Sabilal-Muhtadin. Ternyata, tutur UAS, muslim minoritas di Thailand pun memiliki mufti bergelar Shiekhul Islam atau Grand Mufti. Sedangkan mufti muslim di Moscow saat ini adalah Ildar Hazrat Alyautdinov.

Mengapa Indonesia tidak punya mufti? Menurut UAS banyak alasan. Salah satu diantaranya, mungkin, sebut UAS karena ormas lebih tua dari negara. Muhammadiyah (1912), Nahdhatul-Ulama (1926), Perti (1930), al-Washliyah (1930), dan lain-lain.

Jalan tengah, solusi, kata UAS maka masing-masing ormas mengutus utusan-utusan tergabung dalam Majlis Ulama Indonesia (MUI).

“Dalam MUI itu sendiri ada satu komisi bernama Komisi Fatwa yang bertugas mengeluarkan fatwa terkait keummatan,” demikian tutup UAS.

[ary]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed