Islam Pro Si Miskin Tapi Anti Kemiskinan

Muhammadiyah

IMEDIACYBER | Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 tercatat sebanyak 26,16 juta jiwa. Berdasarkan pulaunya, Jawa memiliki 13,85 juta jiwa penduduk miskin pada Maret 2022. Jumlah ini setara 52,96 persen dari total warga miskin nasional.

Demikian paparan data yang disampaikan Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Faozan Amar dalam Gerakan Subuh Mengaji pada Jumat (9/9/2022).

Menurut Faozan Amar, Islam pro terhadap orang miskin namun anti dengan kemiskinan. Dalam Al Quran disebutkan: Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung (QS Al Jumuah: 10). Kebencian terhadap kemiskinan juga pernah diutarakan Ali bin Abu Thalib: sekiranya kemiskinan itu berwujud seperti manusia, maka akan saya tebas dengan pedangku.

“Keharusan bekerja sesuai dengan kesanggupannya dalam rangka untuk mencukupi kebutuhan hidupan. Dalam hal ini masyarakat dan negara diperintahkan untuk memberikan sarana pemodalan, pemberitan keterampilan dan lapangan kerja yang cocok dengan kapasitas dan kapabilitas si miskin,” ucap Faozan.

Faozan Amar menunjukkan dua teknis pendekatan utama dalam pengentasan kemiskinan.

Pertama, meningkatkan pendapatan. Menurutnya, keluarga miskin atau rentan miskin perlu didorong untuk memiliki kemampuan meningkatkan pendapatan keluarga yang digerakkan baik oleh suami maupun ibu rumah tangga untuk menghidupkan mesin ekonomi kedua dengan mendorong kesempatan kerja maupun kewirausahaan.

Kedua, menekan pengeluaran. Pengeluaran keluarga miskin atau rentan miskin untuk kebutuhan sehari-hari terutama menyangkut sandang, pangan, dan papan, dikurangi melalui keberpihakan, penerapan subsidi secara proporsional, dan bantuan sosial yang mencakup kebutuhan pokok dan kesehatan serta pendidikan.

“Mengubah gaya hidup yang serba mahal ke yang serba cukup. Pemerintah memberikan ragam bantuan sosial merupakan upaya menekan pengeluaran. Jadi lebih baik hidup secukupnya,” ucap Faozan.

[Muhammadiyah/ary]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *